Periklanan adalah fenomena bisnis modern. Tidak ada perusahaan yang ingin maju dan memenangkan kompetisi bisnis tanpa mengandalkan iklan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi itu sendiri, iklan sebagai sebuah industri memegang peranan yang penting. Berbagai kreatifitas periklanan dikembangkan demi memenangkan persaingan. Pertumbuhan industri periklanan pun mengalami perkembangan yang pesat. Para produsen rela mengeluarkan dana yang lebih untuk mengiklankan produk mereka sehingga iklan sendiri semakin mendominasi media massa.
Disadari atau pun tidak, anggapan bahwa menonton televisi gratis adalah keliru. Sebab para khalayak mesti mengeluarkan biaya untuk membeli produk-produk yang diiklankan. Walapun tidak ada paksaan untuk itu, namun terpaan iklan melalui media massa mampu mempersuasi khalayak untuk menggunakan produk yangdiiklankan.
Iklan sendiri kita kenal sebagai sebuah informasi yang disuguhkan oleh produsen kepada masyarakat dengan harapan agar khalayak mau mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Namun, fakta yang semakin terlihat adalah iklan tidak hanya memberi informasi tapi juga memanipulasi psikologis orang secara persuasif untuk mengubah sikap, pikiran sehingga mau membeli produk yang ditawarkan. Seperti yang diungkapkan oleh David A.Aker dan John Myers, ?Most of advertising objective either directly, involve persuading people to change on attitude or ultimately to take same action?. Dengan segala bentuk kreatifitasnya, iklan telah menjadi unsur penting dalam kehidupan sosial. Iklan tidak sebatas proses pemasaran produk tapi lebih dari itu, iklan juga menjual nilai-nilai ideal dalam gaya hidup masyarakat.
Dalam hal ini, periklanan merepresentasikan ideologi kapitalisme. Para produsen terus menerus berusaha untuk mengkonstruksikan sebuah ideologi baru mengenai kehidupan sosial . Periklanan memperkuat struktur masyarakat yang berbasiskan kelas dengan mengkonstrusikan bagaimana sebenarnya sosok wanita yang cantik, bagaimana sebenarnya sosok pria yang perkasa, bagaimana gaya hidup orang yang berstatus sosial tinggi. Psikologi masyarakat yang sangat mempedulikan prestise dan citra diri dijadikan senjata oleh para produsen. Produsen menanamkan prestise dan citra bagi si pemakai dalam tiap produknya.
Pada akhirnya, tiap orang berlomba-lomba menjadi ?sosok ideal?. Dengan dibungkus gaya hidup konsumerisme, manusia berusaha menunjukan prestise dan citra dirinya. Menariknya, konsep ideal tadi merupakan buah manipulasi dari iklan itu sendiri. Iklan menjual berbagai ideologi baru yang di dalamnya terdapat nilai-nilai dan ideal-ideal sosial untuk mempengaruhi konsumen agar mau mengubah gaya hidupnya dengan menggunakan produk yang mereka tawarkan.
Sebagai contoh, pengiklanan produk barang-barang mewah seperti mobil bermerek, yang digambarkan sebagai kendaraan yang nyaman. Dalam iklannya, sering kali dipaparkan prestise-prestise yang akan didapat oleh orang-orang yang memiliki mobil bermerek itu. Sehingga para khalayak pun dibuat tertarik dan memimpikan kendaraan bermerek yang sama. Kemudian, jadilah gambaran kehidupan yang mewah adalah kehidupan yang dilengkapi dengan mobil mewah tadi. Produk mobil bermerek tadi telah dijadikan simbol akan kehidupan yang diimpi-impikan. Dengan seperti itu iklan akan menjual kedua-duanya yaitu mobil dan gaya hidup mewah yang menjadi nilai-nilai dan ideal-ideal sosial baru.
Nilai-nilai dan ideal-ideal sosial lain yang dijual oleh periklanan adalah citra diri ketika tampil di depan publik. Ideologi kehidupan konsumerisme tersebut ditanamkan secara halus . Secara perlahan pula iklan mempengaruhi pilihan cita rasa yang kita buat. Periklanan menjadi salah satu agen yang ikut memformulasikan kerangka-kerangka kultural gaya hidup citraan yang terus menerpa kehidupan masyarakat. Misalnya saja dalam hal ini iklan produk parfum yang seringkali memanipulasi para khalayak untuk berpikir bahwa dengan parfum tersebut mampu menunjukan citra seseorang sebagai sosok yang elegan, sporty, feminim, ataupun maskulin. Iklan mempersuasi khalayak untuk menggunakan parfum sesuai dengan citra diri mereka. Dapat dilihat di sini bahwa dalam hal ini iklan juga menjual nilai ideal dali sosok yang elegan, sporty, feminis atau maskulin tadi yang terwujud dari parfum yang digunakan.Kemudian, nilai-nilai dan ideal-ideal sosial tadi terus diekspos melalui media. Ironisnya media di sini juga bergantung pada iklan sehingga ikut juga merepresentasikan nilai-nilai ideologi kapitalis.
Nilai-nilai dan ideal-ideal lain yang dijual dalam iklan adalah paras serta keperkasaan. Iklan mengkonstruksikan sendiri definisi cantik atau perkasa secara fisik. Yang karena terpaanya yang terus-menerus pada akhirnya mampu menjadikan konstruksi tadi sebagai ideologi dominan. Dimana selanjutnya masyarakat pun terdorong untuk mengikuti atau untuk tampil sesuai dengan ideologi dominan tadi. Misalnya, secara fisik tiap orang memiliki gambaran yang hampir sama akan bagaimana wanita yang cantik dan bagaimana pria perkasa.
Pengiklan meciptakan konsep sosok ideal itu dengan berbagai ciri-ciri sehingga semakin banyak produk yang dapat mereka tawarkan. Misalnya untuk jadi cantik berarti harus berkulit putih dan mulus, maka dikeluarkanlah produk yang dapat menjadikan kulit putih dan mulus. Manipulasi dalam iklan menggambarkan bagaimana seorang wanita yang putih dan mulus di kejar-kejar oleh banyak pria. Pada akhirnya, banyak wanita-wanita lain yang terobsesi dengan hal yang sama dan berlomba-lomba menggunakan produk tersebut. Begitulah bagaimana iklan menanamkan nilai-nilai dan ideal-ideal kecantikan yang baru.
Berbagai iklan produk kecantikan menampilkan sosok wanita cantik yang serupa. Wanita cantik diidentikan dengan kulit yang putih, tinggi, rambut panjang lurus, wangi,dll. Sebagai contoh, produk sabun selalu diiklankan oleh wanita yang putih dan halus. Bahkan, sering kali digambarkan bahwa wanita yang berkulit gelap ditinggalkan oleh kekasihnya karena kekasihnya lebih memilih wanita berkulit cerah. Seolah-olah hanya wanita yang berkulit cerah yang pantas dikejar-kejar pria. Faktanya, karena manipulasi iklan tadi, produk-produk kecantikan saat ini mengalami pertumbuhan penjualan yang pesat.
Kewajaran, nilai itulah yang jual oleh iklan. Iklan mempersuasi anggapan para khalayak untuk berpikiran bahwa wajar jika mereka hidup konsumtif di zaman ini. Selain itu, iklan juga meyakinkan bahwa produk-produk yang mereka tawarkan memang kebutuhan yang harus dipenuhi, bahwa gaya hidup seperti yang digambarkan dalam iklan adalah kehidupan ideal yang harus dikejar. Sampai pada akhirnya, ideology yang tertanam pada khalayak adalah ideology konsumerisme bahwa untuk tampil cantik harus, tampil perkasa, mendapatkan prestise, harus mengeluarkan biaya yaitu dengan membeli produk-produk iklan.Sumber :



11.18
yoedhaadvertising.blogspot.com

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar